Rabu, 04 Januari 2012

◕ ‿ ◕╰☆╮◕ ‿ ◕ TAHUKAH ANDA ? ◕ ‿ ◕╰☆╮◕ ‿ ◕


Tahukah anda kalau orang yang kelihatan begitu tegar hatinya,
adalah orang yang sangat lemah dan butuh pertolongan?

Tahukah anda kalau orang yang menghabiskan waktunya untuk melindungi orang lain,
adalah justru orang yang sangat butuh seseorang untuk melindunginya?

Tahukah anda kalau tiga hal yang paling sulit untuk diungkapkan
adalah “aku cinta kamu”, “maafkan aku” dan “tolong aku” ?

Tahukah anda kalau orang yang suka berpakaian warna merah,
adalah orang yang lebih yakin kepada dirinya sendiri?

Tahukah anda kalau orang yang suka berpakaian kuning,
adalah orang yang menikmati kecantikannya sendiri?

Tahukah anda kalau orang yang suka berpakaian hitam,
adalah orang yang ingin tidak diperhatikan, butuh bantuan dan pengertian anda?

Tahukah anda kalau anda menolong seseorang,
pertolongan tersebut akan dikembalikan dua kali lipat?

Tahukah anda bahwa lebih mudah mengatakan perasaan anda dalam tulisan
dibandingkan mengatakan kepada seseorang secara langsung?

Tapi tahukah anda bahwa hal tsb akan lebih bernilai saat anda mengatakannya dihadapan orang tersebut?

Tahukah anda kalau anda memohon sesuatu dengan keyakinan,
keinginan anda tersebut pasti akan dikabulkan?

Tahukah anda bahwa anda bisa mewujudkan impian anda,
seperti jatuh cinta, menjadi kaya, selalu sehat?
Jika anda memintanya dengan keyakinan, dan jika anda benar-benar tahu,
anda akan terkejut dengan apa yang bisa anda lakukan.

Tapi jangan percaya semua yang saya katakan, sebelum anda mencobanya sendiri.
Jika anda tahu seseorang yang benar2 butuh sesuatu yg saya sebutkan diatas,
dan anda tahu anda bisa menolongnya, anda akan melihat bahwa pertolongan tersebut akan dikembalikan dua kali lipat.

PERENCANAAN TERHADAP GEMPA


PERENCANAAN TERHADAP GEMPA

Acuan dalam perencanaan bangunan beton bertulang tahan gempa di Indonesia adalah Standard Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung (SNI 1726 – 2002) dan Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung (SNI 03 – 2847 – 2002) Bab 23. Aturan detailing pada dasarnya diatur dalam SNI 03 – 2847 – 2002. Berdasarkan aturan ini, detailing diebdakan berdasarkan tingkat kerawanan daerah terhadap gempa. Pada peta zonasi gempa dalam peraturan gempa yang berlaku, Indonesia dibagi dalam 6 zona kegempaan, yaitu zona gempa 1 , dan 2 (wilayah dengan risiko/kerawanan gempa rendah), zona gempa 3, dan 4 (wilayah dengan risiko gempa menengah) dan zona gempa 5, dan 6 (wilayah dengan risiko gempa tinggi).
Menurut SNI 03 – 2847 – 2002, bangunan yang berada pada zona gempa yang berisiko tinggi harus direncanakan dengan menggunakan sistem struktur penahan beban lateral yang memenuhi persyaratan detailing  yang khusus atau memiliki tingkat daktalitas penuh. Sedangkan sistem struktur bangunan yang berada pada zona gempa yang berisiko menengah harus direncanakan paling tidak menggunakan tingkat daktalitas sedang.
Berdasarakan SNI 03 – 2847 – 2002, sistem struktur dasar penahan tanah lateral secara umum dapat dibedakan atas :
a.              Sistem Rangka Pemikul Momen (SRPM)
b.             Sistem Dinding Struktural (SDS)

a.                       Sistem Rangka Pemikul Momen (SRPM)
Sistem Rangka Pemikul Momen (SRPM) adalah sistem rangka ruang dimana komponen-komponen struktur balok, kolom, dan join-joinnnya menahan gaya-gaya yang bekerja melalui aksi lentur, geser dan aksial.
SRPM dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1.             Sistem Rangka Pemikul Momen Biasa (SRPMB)
Adalah suatu sistem rangka yang memenuhi ketentuan-ketentuan pasal 3 hingga pasal 20 SNI 03 – 2847 – 2002. Sistem rangka ini pada dasarnya memiliki tingkat daktalitas terbatas dan hanya cocok digunakan di daerah dengan risiko gempa yang rendah (Zona 1, dan 2).

2.           Sistem Rangka Pemikul Momen Menengah (SRPMM)
Adalah suatu sistem rangka yang selain memenuhi ketentuan-ketentuan untuk rangka pemikul momen biasa juga memenuhi ketentuan-ketentuan detailing pasal 23.2(2(3)) dan 23.10. Sistem ini pada dasarnya memiliki tingkat daktalitas sedang dan dapat digunakan di zona gempa 1- 4.
3.             Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK)
Adalah suatu sistem rangka yang selain memenuhi ketentuan-ketentuan untuk rangka pemikul momen biasa juga memenuhi ketentuan-ketentuan pasal 23.2 sampai 23.5. Sistem ini memiliki tingkat daktalitas penuh dan wajib digunakan di zona gempa 5 dan 6.
                             
b.                      Sistem Dinding Struktural (SDS)
Sistem Dinding Struktural (SDS) adalah dinding proporsi untuk menahan kombinasi geser, momen dan gaya aksial yang ditimbulkan gempa. Suatu “dinding geser” (Shearwall) pada dasarnya merupakan dinding struktural.

SDS dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1.             Dinding Struktural Beton Biasa (SDSB)
Adalah suatu dinding struktural yang memenuhi ketentuan-ketentuan pasal 3 hingga pasal 20 SNI 03 – 2847 – 2002. Sistem dinding ini memiliki tingkat terbatas dan boleh digunakan di zona gempa 1 hinga 4.
2.             Dinding Struktural Beton Biasa (SDSB)
Adalah suatu dinding struktural yang selain memenuhi ketentuan untuk dinding struktural beton biasa juga memenuhi ketentuan-ketentuan pasal 23.2 dan 23.6. Sistem ini pada prinsipnya memiliki tingkat daktalitas penuh dan harus digunakan pada zona gempa 5 dan 6.

BEBAN-BEBAN PADA STRUKTUR BANGUNAN BERTINGKAT


BEBAN-BEBAN PADA STRUKTUR BANGUNAN BERTINGKAT

Beban-beban pada struktur bangunan bertingkat, menurut arah bekerjanya dapat dibagi menjadi dua, yaitu : (PBI, 1983)
1.             Beban Vertikal (Gravitasi).
a.         Beban Mati (Dead Load).
b.        Beban Hidup (Live Load).
c.         Beban Air Hujan.

2.             Beban Horizontal (Lateral).
a.         Beban Gempa (Earthquake).
b.        Beban Angin (Wind Load).
c.         Tekanan Tanah dan Air Tanah.

Pada perencanaan konstruksi bangunan bertingkat ini, beban-beban yang diperhitungkan adalah beban mati, beban hidup, beban air hujan pada atap, beban angin pada atap, dan beban gempa.

1.1.            Beban Mati
Beban mati adalah berat semua bagian dari suatu gedung yang bersifat tetap, termasuk segala beban tambahan, finishing, mesin-mesin serta peralatan tetap yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari gedung tersebut. (SNI 03-2847-2002, Pasal 3.10)

Beban mati yang di perhitungkan terdiri dari :
a.              Berat kolom sendiri
b.             Berat sendiri balok induk, balok sloof,  balok anak, balok ring.
c.              Berat dinding precast
d.             Berat pelat lantai
e.              Berat penutup lantai
Besarnya beban mati pada suatu gedung dapat di lihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 2.3.1. Berat sendiri bangunan dan komponen gedung
NO
Bahan Bangunan
Berat Sendiri (Kg/m3)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
Baja
Batu alam
Batu belah, batu bulat, atau batu gunung(berat tumpuk)
Batu karang (berat tumpuk)
Batu pecah
Besi tuang
Beton
Beton bertulang
Kayu (kelas I)
Kerikil, koral (kering udara sampai lembab, tanpa ayak)
Pasangan bata merah
Pasangan batu belah, batu bulat, batu gunung
Pasangan batu cetak
Pasangan batu karang
Pasir (kering udara sampai lembab)
Pasir (jenuh air)
Pasir kerikil, koral (kering udara sampai lembab)
Tanah, lempung dan lanau (kering udara sampai lembab)
Tanah, lempung dan lanau (basah)
Timah hitam (timbel)
7850
2600
1500
700
1450
7250
2200
2400
1000
1650
1700
2200
2200
1450
1600
1800
1850
1700
2000
11400
(Sumber : Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung 1983)

1.2.                 Beban Hidup
Beban hidup adalah semua beban yang terjadi akibat pemakaian dan penghunian suatu gedung, termasuk beban-beban pada lantai yang berasal dari barang-barang yang dapat berpindah dan/ atau beban akibat air hujan pada atap. (SNI 03-2847-2002, Pasal 3.8)



Tabel 2.3.2. Beban Hidup
Beban Hidup
Kg/m2
a.    Lantai dan tangga, kecuali yang di sebut dalam (b)
b.    Lantai dan rumah tinggal sederhana dan gudang-gudang tidak penting, yang bukan untuk toko atau ruang kerja
c.    Lantai sekolah, ruang kuliah, kantor, toko, restorant, hotel, asrama dan rumah sakit.
d.   Lantai ruang olahraga
e.    Lantai ruang dansa
f.     Lantai dan balkon dalam dari ruang-ruang untuk pertemuan yang lain dari pada yang di sebut  dalam (a) s/d (e), seperti mesjid, gereja, ruang pagelaran, ruang rapat, bioskop, dan  panggung penonton dengan tempat duduk tetap.
g.    Panggung penonton tempat duduk tidak tetap atau untuk penonton yang berdiri
h.    Tangga, bordes tangga, lantai, dan gang dari ruang-ruang yang disebut dalam poin (c)
i.      Tangga, bordes tangga, lantai, dan gang dari ruang-ruang yang disebut dalam poin (d), (e), (f) dan (g)
j.      Lantai ruang pelengkap dari ruang-ruang yang di sebut (c), (d), (e), (f), dan (g)
k.    Lantai untuk : pabrik, bengkel, gudang, perpustakaan, ruang arsip, toko buku, toko besi, ruang alat-alat danruang mesin, harus direncanakan terhadap beban hidup yang ditentukan tersendiri, dengan minimum

l.      Lantai gedung parkir bertingkat :
-          Untuk lantai bawah
-          Untuk lantai tingkat lainnya
m.  Balkon-balkon yang menjorok bebas keluar harus direncanakan terhadap beban hidup dari lantai ruang yang berbatasan, dengan minimum
200

125

250
400
500



400

500

300

500

250



400


800
400


300
(Sumber : Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung 1983)

1.3.                 Beban Angin
Beban angin adalah beban yang bekerja pada bangunan atau bagiannya karena adanya selisih tekanan udara (hembusan angin kencang). Beban angin ini ditentukan dengan menganggap adanya tekanan positif dan tekanan negatif (isapan angin), yang bekerja tegak lurus pada bidang-bidang bangunan yang ditinjau. (http://www.gunadarma.ac.id/library/articles/graduate/civil-engineering/2005/Artikel_10300035.pdf )

Menurut Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung 1983, besarnya tekanan tiup angin ini harus diambil minimum 25 kg/m2 luas bidang bangunan yang ditinjau. Sedangkan untuk di laut sampai sejauh 5 km dari tepi pantai tekanan tiup angin ini diambil minimum 40 kg/m2, serta untuk daerah-daerah di dekat laut dan daerah-daerah lain dimana kemungkinan terdapat kecepatan angin yang mungkin dapat menghasilkan tekanan tiup yang lebih besar dari yang ditentukan di atas, maka tekanan tiup angin tersebut harus dihitung dengan rumus:

p = V2/16    (kg/m2)

Dimana :         p        = tekanan tiup angin (kg/m2).
     V       = kecepatan angin (m/detik).

1.4.                 Beban Gempa
Beban gempa adalah semua beban statistic ekuivalen yang bekerja pada gedung atau bagian gedung yang menirukan pengaruh dari gerakan tanah akibat gempa itu. Dalam hal pengaruh gempa pada struktur gedung di tentukan berdasarkan suatu analisa dinamik, maka yang di artikan dengan beban gempa di sini adalah gaya – gaya dalam struktur tersebut yang terjadi oleh gerakan tanah akibat gempa itu.

Kamis, 29 Desember 2011

KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN PEMAKAIAN BAHAN BETON

KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN PEMAKAIAN BAHAN BETON


       Bahan bangunan yang berupa beton ini sekarang banyak dipakai untuk konstruksi bangunanm bahakan (hampir) setiap hari dijumpai bangunan yang terbuat dari beton, mulai dari yang sederhana (misalnya patungan kecil) sampai pada bangunan besar (gedung bertingkat, jembatan, jembatan layang, bendungan, dermaga, dan sebagainya)
       Menurut Ali Asroni dalam bukunya yang berjudul "Balok dan Pelat Beton Bertulang" , bangunan yang menggunakan konstruksi beton mempunyai beberapa keunggulan, yaitu :
  1. Beton termasuk tahan aus dan tahan terhadap kebakaran.
  2. Beton sangat kokoh dan kuat terhadap beban gempa bumi, getaran, maupun beban angin.
  3. berbagai bentuk konstruksi dapat dibuat dari bahan beton menurut selera perancang atau pemakai.
  4. Biaya pemeliharaan atau perawatan sangat sedikit (tidak ada). Dari pengalaman pada jembatan baja, setiap jangka waktu tertentu jembatan tersebut harus dicat ulang, agar bahan baja tidak berkarat dan tidak jadi keropos/ rusak. Dengan demikian biaya perawatan pada jembatan baja ini cukup mahal. Tetapi jika digunakan jembatan dari konstruksi beton bertulang, maka biaya perawatannya hampir tidak ada.
       Bangunan yang menggunakan konstruksi beton juga mempunyai beberapa kelemahan, yaitu :
  1. Beton mempunyai kuat tarik yang rendah, sehingga mudah retak. Oleh karena itu perlu diberi baja tulangan, atau tulangan kasa (meshes).
  2. Konstruksi beton itu berat, sehingga jika dipakai pada bangunan harus disediakana pondasi yang cukup besar/ kuat.
  3. Untuk memperoleh hasil beton dnegan mutu yang baik, perlu biaya pengawasan tersendiri.
  4. Konstruktsi beton tidak dapat dipindahkan, disamping itu bekas (rosokan) beton tidak ada harganya.

DEFINISI BETON DAN BETON BERTULANG




                       1.         DEFINISI BETON 
Beton adalah campuran antara semen portland atau semen hidraulik yang lain, agregat halus, agregat kasar dan air, dengan atau tanpa bahan tambahan yang membentuk masa padat. (SNI 03- 2847 – 2002,Pasal 3.12 )

Sifat utama dari beton, yaitu sangat kuat terhadap beban ekan, tetapi juga bersifat getas/ mudah patah atau rusak terhadap beban tarik. Dalam perhitungan struktur, kuat tarik beton ini biasanya diabaikan.
2.               DEFINISI BETON BERTULANG


Beton bertulang adalah beton yang ditulangi dengan luas dan jumlah tulangan yang tidak kurang dari nilai minimum yang di syaratkan dengan atau tanpa prategang, dan direncanakan berdasarkan asumsi bahwa kedua bahan tersebut bekerja sama dalam memikul gaya-gaya. (SNI 03- 2847 – 2002, Pasal 3.13 )


Sifat utama dari baja tulangan, yaitu sangat kuat terhadap beban tarik maupun beban tekan. Karena baja tulangan harganya mahal, maka sedapat mungkin dihindari penggunaan baja tulangan untuk memikul beban tekan.

Dari sifat utama tersebut dapat dilihat bahwa tiap-tiap bahan mempunyai kelebihan dan kekurangan, maka jika kedua bahan (beton dan baja tulangan) dipadukan menjadi satu kesatuan secara komposit, akan diperoleh bahan baru yang disebut beton bertulang. Beton bertulang ini mempunyai sifat sesuai dengan sifat bahan penyusunnya, yaitu sangat kuat terhadap beban tarik maupun bebann tekan. Beban tarik pada beton bertulang ditahan oleh baja tulangan, sedangkan beban tekan cukup ditahan oleh beton. Beton juga tahan terhadap kebakaran dan melindungi baja supaya awet.