Tampilkan postingan dengan label REALIGY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label REALIGY. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Januari 2012

Asal Usul Penetapan 25 Desember Sebagai Natal

          Natal atau Christmas berasal dari kata Christ's Mass yang berarti Misa Natal. Natal pertama kali dirayakan di Roma tahun 336 AD. Setelah Kaisar Roma yang bernama Konstantin menyatakan diri menjadi pemeluk agama Nasrani, sudah menjadi tradisi setiap tanggal 25 Desember penduduk kota Roma merayakan pesta besar yang disebut Roman Saturnalia (suatu perayaan untuk menghormati Saturn, dewa pertanian dan pembaharuan kuasa matahari), untuk menyambut kembalinya matahari di belahan bumi utara setalah mencapai garis balik selatan. 


          Ketika siang hari menjadi lebih panjang, dewa matahari dianggap telah lahir kembali dan mereka bergembira sambil tukar menukar hadiah. Kemudian tanggal 25 Desember tersebut diperingati sebagai Natal, karena Yesus dianggap "Matahari" yang menerangi bumi.

          Dan ketetapan untuk menjadikan 25 Desember menjadi Hari Raya Natal dilakukan oleh Paus Julius I, pada pertengahan abad ke-4 di kota Roma. Ketetapan tersebut tidak dapat diterima oleh gereja-gereja di Yerusalem yang menolaknya sampai abad ke-6. Walaupun demikian, 25 Desember sudah menjadi budaya bagi umat Kristiani untuk merayakan hari kelahiran Tuhan Yesus sampai sekarang.

         Ada gereja yang merayakan Natal dengan berbagai tujuan. Memang ada yang berlebihan sampai kehilangan makna Natalnya, tapi masih ada yang dengan maksud mulia (PI, sosial, dsb). Dipihak lain, ada pula yang melarang karena berbagai alasan.

          Namun demikian, walaupun ada perbedaan, jangan sampai arti Natal menjadi pudar. Karena pada kenyataannya, Kristud sudah lahir, baik secara sejarah maupun pengalaman bagi yang percaya pada-Nya. Sikap seperti ini lebih baik dari pada pro dan kontra terhadap waktu dan cara merayakan Natal itu sendiri. Mari bersikap arif dan terbuka terhadap perbedaan tersebut tanpa harus saling menghakimi dan saling menyakiti.






(Warta Jemaat, GPdI Ekklesia Padang Bulan - Jayapura)

Rabu, 04 Januari 2012

BIRU


Bilangan 15:38
“Katakanlah kepada mereka, bahwa mereka harus membuat jumbai-jumbai pada punca baju mereka, turun temurun, dan dalam jumbai-jumbai punca itu haruslah dibubuh benang ungu kebiru-biruan”

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 21; Matius 21; 2 Tawarikh 23-24

Pada zaman dahulu, Allah selalu berbicara kepada bangsa Israel melalui perantaraan Nabi-nabi. Dia tidak pernah langsung mengatakan apa yang Dia inginkan kepada umat pilihan-Nya tersebut. Suatu kali Allah memberikan perintah kepada Musa untuk diteruskan kepada bangsa Israel. Dia menyuruh agar rombongan yang keluar dari Mesir itu membuat jumbai-jumbai pada punca baju mereka yang di dalamnya dibubuh benang ungu kebiru-biruan (Bilangan 15:38).

Jumbai-jumbai tersebut adalah pengingat bagi bangsa Israel agar tetap setia melakukan segala perintah-Nya dan menjadi kudus bagi-Nya (ayat 40). Benang biru, seperti warna langit, berbicara tentang kuasa dan anugerah keselamatan dari Allah yang tak terukur.

Hari ini kita masih perlu diingatkan. Di dalam segala kesibukan hidup, kita dapat dengan mudah melupakan Allah dan kasih-Nya bagi kita. Ada hal-hal yang dapat membantu mengingatkan kita akan kehadiran-Nya. Salah satunya adalah warna biru.

Langkah pertama adalah mengingat,” kata Aslan di dalam buku C.S Lewis ‘The Silver Chair’. Aslan, sebagai figur Kristus, berpesan kepada Jill untuk “mengingat tanda-tanda” yang telah ia berikan kepadanya. Jika Anda mengerti tanda-tanda Allah, seperti nilai penting dari warna biru, Anda akan lebih mudah mengingat kasih-Nya. Danau di tengah pegunungan, sungai yang mengalir dari atas gunung, lautan langit yang biru, semuanya mengingatkan kita akan surga dan kasih Allah yang tak terukur.

Mulai sekarang, cobalah ketika melihat warna-warna biru tersebut, ingatlah akan kasih Allah, khususnya kasih-Nya yang Dia tunjukkan kepada Anda.

Berkat sehari-hari mengingatkan kita akan Allah setiap hari.
Posted By_: Renungan Harian Kita